Jumat, 28 Januari 2011

Catatan Manusia yang Rindu Belaian Alam



 
Semakin hari wajah murung nan kusam semakin terlihat
Dari hari ke hari wajah ku terlihat lebih senja tak sebanding dengan perjalanan waktu yang di tempuh,
Hidup di kota hanya mementingkan materi semata, saling berebut kekuasaan, berlomba mengejar pangkat dan jabatan,
Padahal hidup di dunia bukan hanya itu, apakah manusia sudah menganggap materi sebagai Tuhan.

Aku merasakan rindu pada jiwa ini tentang apa yang aku pernah lakukan,
Sudah lama jiwa ini tidak bercumbu dengan alam
Sudah lama Raga ini tidak merasakan terpaan angin gunung yang menggetarkan tubuh,
Aku merindukan air yang jernih nan sejuk pabila dibasuhkan ke wajah ku yang kusam ini,
Dan Aku merindukan hangatnya persahabatan yang terasa sampai kejiwa.

Inginku berlari dan bermukim ke daerah pedalaman yang alamnya masih terjaga kelestariannya.
Namun aku juga manusia yang mempunyai keluarga
Dan apakah aku mampu hidup bagai petani yang mampu mengangkat dan menancapkan cangkulnya di saat matahari membakar kulit,
Dan apakah aku mampu hidup bagai nelayan yang mampu menarik layar disaat terrjangan ombak dan kerasnya karang.

Hidup dikota aku bagaikan dibelenggu sang waktu
Sebenarnya aku hanya ingin ada waktu luang untuk menikmati Indahnya Alam ciptaan tuhan.
Tapi apa daya kota hanya melambungkan anganku, yang semua hanya bohong besar.

Yaa.. TUHAN apakah aku ini manusia normal yang mempunyai harapan disetiap waktu
Dan apakah aku ini hamba yang kurang bersyukur akan nikmat yang kau berikan kepadaku.

Sabtu, 15 Januari 2011

Sebuah Harapan Dari sang Kerbau Gunung

Wahai Engkau yang Hijau dan Rimbun
Wahai Engkau yang memberikan kedamaian
Wahai Engkau yang Jenih dan Bersih
Wahai Engkau yang memberikan kesegaran


Tangan-tangan usil manusia membuatmu tak hijau lagi
Tangan-tangan Jahil manusia membuatmu tak rimbun lagi
Tangan-tangan kotor manusia membuatmu tak jernih lagi
Tangan-tangan manusia membuatmu tak bersih lagi


Saat kau tak lagi bisa memberikan kedamaian
Manusia sibuk dengan penanaman pohon kembali seratus, seribu, sejuta bahkan semilyar pohon
akankah engkau dapat kembali hijau dan rimbun?


Aku harap bukan hanya perbaikan pada hutan
aku harap bukan hanya penanaman pohon yang di gencarkan
aku harap perilaku manusialah yang harus dibenahi
aku harap ini bukan harapan yang sirna begitu saja.

Senin, 10 Januari 2011

Kritisisasi Diri dan Negeri Sendiri


Indonesia yang aku kenal adil dan makmur. Namun dari aku kecil sampai sekarang aku besar belum pernah aku melihat keadilan dari para elit pemerintah kepada rakyatnya, dan aku juga belum pernah melihat kemakmuran dari para rakyat jelata yang selalu menjadi korban pengkhianatan dan keserakahan.

Negara kita yang katanya negara hukum tetapi aku melihat dan aku mendengar terjadi kenjanggalan pada setiap proses perkara tertentu, dan timbul pertanyaan dalam hati, sebenarnya hukum ini milik siapa? Sebuah tanda tanya besar bagi kita semua, apakah hukum ini hanya berlaku bagi para rakyat miskin saja? Kapan hukum ini bisa berjalan dengan tegak dan tegas di bumi negara ini? Terdakwa yang mempunyai harta berlimpah dengan seenaknya dia bisa berjalan bebas pada saat berada di dalam rumah tahanan, bahkan dia bisa plesiran sampai keluar negeri. Aduhai mau dibawa penegakan hukum ini? Sampai kapan ini terjadi? Kita lihat saja terdakwa kasus korupsi yang mengambil uang negara dengan jumlah yang tidak sedikit, masuk bui tetapi pada saat didalam bui seperti menemui kebebasan baru, namun rakyat yang setiap hari memperjuangkan hidupnya agar hari ini dapat makan, dan makanan yang dimakannya pun mungkin hanya seadanya seperti makanan didalam penjara kelas teri. Ooooh inikah negaraku?

Wahai rakyat yang merasakan susahnya hidup di negara ini teruslah kita berusaha dan berdo’a agar perjuangan kita selalu di berkahi Allah SWT, dan teruslah mencari rezeki yang halal sesuai tuntunan Al Quran dan Al hadits agar di akhirat nanti kita tidak merasakan susah yang seperti kita rasakan di dunia ini.

 Wahai para koruptor hendaklah engkau bertobat dengan taubat nasuha agar engkau tak sengsara di akhirat nanti dan ingatlah kekayaanmu di dunia tak akan kau bawa mati, untuk apa kau kaya di dunia tetapi kekayaanmu hasil dari tangan kotormu.

Dan Wahai para pemimpin lihatlah rakyat yang menitikan air mata karena beratnya persoalan yang dihadapi,dengarlah jeritan rakyat yang menjerit karena ketidak adilan dan keserakahanmu, dan Rasakanlah dengan hati nurani mu apa yang mereka rasakan.

pandangan menurut sejarah kepercayaan Masyarakat

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuna Tantu Pagelaran yang berasal dari abad ke-15, pada dahulu kala Pulau Jawa mengambang di lautan luas, terombang-ambing dan senantiasa berguncang. Para Dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau Jawa.
Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman.
Dewa-Dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Kemudian mereka memindahkannya ke bagian timur pulau Jawa. Ketika gunung Meru dibawa ke timur, serpihan gunung Meru yang tercecer menciptakan jajaran pegunungan di pulau Jawa yang memanjang dari barat ke timur. Akan tetapi ketika puncak Meru dipindahkan ke timur, pulau Jawa masih tetap miring, sehingga para dewa memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut. Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Pada saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau jawa dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa.
Lingkungan geografis pulau Jawa dan Bali memang cocok dengan lambang-lambang agama Hindu. Dalam agama Hindu ada kepercayaan tentang Gunung Meru, Gunung Meru dianggap sebagai rumah tempat bersemayam dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung diantara bumi (manusia) dan Kayangan. Banyak masyarakat Jawa dan Bali sampai sekarang masih menganggap gunung sebagai tempat kediaman Dewata, Hyang, dan mahluk halus.

Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru dilakukan oleh orang Bali. Betapapun upacara tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru. Selain upacara sesaji itu orang Bali sering datang ke daerah Gua Widodaren untuk mendapat Tirta suci.

ranu Kumbolo

Ingin ku mengajak orang tercinta untuk menikmati dan bermalam di ranu kumbolo.

lukisan pemandangan Abraham salm

Lukisan pemandangan desa dengan latar belakang gunung Semeru.

Selasa, 04 Januari 2011

Mahameru berjuta kenangan

Mahameru, begitu manis untuk selalu mengenangmu, aku pun menyadari kau hasil karya dari Yang Maha Kreatif, Pendakian waktu itu memang sangat mengesankan dari mulai berangkat dari stasiun senen sampai Mahameru memang perjalanan yang penuh arti.

  Aku bercerita dan aku menulis karena aku pernah merasakan indahnya pesonamu, dan aku pernah menyicipi pasirmu, banyak kenangan yang kubawa dari sana, Ranu pani. Watu rejeng, Tanjakan penyesalan, Ranu Kumbolo, Oro-oro Ombo, Cemoro kandang, Kalimati, Arcopodo dan Mahameru. Semua kulihat dan kurasakan dengan penuh takjub dan Syukur kepada yang menciptakan mu.

Semua kenangan dan Keindahan yang aku lihat dan aku rasakan takkan bisa dibayarkan dengan Dollar sekalipun.




Mahameru yang penuh arti


Ranu Kumbolo

 

Senin, 03 Januari 2011

Bagai pohon yang berdiri tanpa akar

Kemarin, ya kemarin hari senin tanggal 03 januari 2011 merupakan hari yang tidak mengenakan pada diri saya, entah dosa apa yang telah saya perbuat? apa ini balasan dosa dari Tuhan karena perbuatan ku dimasa lalu?yaa aku tak tau...

Beberapa masalah seakan tak mau pergi dari diri ini, setiap hari, setiap menit dan setiap detik selalu saja ada, hampir aku putus asa dan kehilangan percaya diri, seakan aku seperti pohon yang berdiri tanpa akar yang siap tumbang dan menimpa bangunan disekitarnya.

Aku selalu berharap di hari kemudian apa yang aku alami kemarin dapat berbuah manis di hari esok, dan semoga Tuhan merubah keluh kesah ku selama ini menjadi amal baik Ku..Tolong aku yaa ALLAH.