Kamis, 28 April 2011

Menghilangkan penat dengan caraku.



Pulang kerja kala itu nampak tak bergairah, karena rencana yang telah dibahas oleh teman-teman sejak beberapa minggu lalu untuk kemping ke Sukamantri Bogor Jawa Barat gagal total alias GATOT karena ada salah satu teman saya yang tidak bisa ikut dan juga kurang matangnya persiapan, akhirnya setelah saya tiba dirumah lepas pulang kerja saya bingung akan kemana saya akan berjalan dan tempat tujuan mana yang akan saya tuju, sampai Ba’da Maghrib saya pun belum dapatkan ide untuk menentukan kemana saya akan pergi, karena saya sudah lama tidak jalan dan sudah lama tidak menikmati kegiatan dialam terbuka akhirnya saya mempunyai niat untuk jalan kecibodas menggunakan sepeda, namun dalam hati saya masih bertanya-tanya sama siapa saya akan jalan kesana, dan setelah isya saya coba buka kontak yang ada di Handphone kesayangan saya, munculah satu nama yang saya perkirakan orang tersebut mau diajak untuk menemani saya jalan, akhirnya saya pun mencoba sms ke nomor tersebut dan akhirnya teman saya tersebut langsung tidak basa basi menyetujui tawaran saya untuk kecibodas menggunakan sepeda, karena hari sudah malam lalu kami bertemu di stasiun tanjung barat untuk loading sepeda kami menuju bogor.

Setelah kami sampai tiba di stasiun tujuan kami, kami membeli air mineral terlebih dahulu karena air merupakan salah satu sumber energi untuk menggowes sepeda, setelah sebotol air ukuran satu liter dimasukkan kedalam tas kami pun langsung memulai perjalanan menggunakan sepeda.

Tak terasa perempatan Ciawi sudah kami lewati belum banyak tajakan yang kami lalui, namun pas di pertigaan keluar tol Jagorawi  kami istirahat sejenak, jalan menanjak sudah didepan mata, kaki terutama dengkul masih terasa kuat untuk menggowes, namun setelah tiba di daerah mega mendung kaki sebelah kiriku sudah mulai keram, sejenak aku turun untuk istirahat, setelah saya rasa sudah mulai kendur saya pun menunggangi sepeda saya lagi, jalan masih terus menanjak tak jarang saya menuntun sepeda saya karena saya merasakan dengkul saya tidak kuat lagi utuk menggowes, saya rasa apa yang saya rasakan ini karena saya sudah lama tidak main sepeda dan juga malam sebelumnya saya bergadang hingga pagi karena melaksanakan tugas, jadi tenaga yang ada pada diri saya tinggal beberapa persen saja, namun saya masih punya semanagat yang tinggi untuk melanjutkan perjalanan, namun sewaktu sampai didepan pintu masuk wisata gunung mas kaki ku bertambah parah kali ini keram pada bagian kiri kanan, sambil istirahat roti dan tehmanis kami nikmati untuk menambah tenaga, sopir angkot yang masih beroperasi menggoda kami dengan menawarkan kami agar menggunkan jasa angkotnya , dengan tekad yang kuat dan semangat yang menggila kami menolaknya, teh manis sudah saya habiskan saya pun bilang ke teman saya kalau saya jalan duluan karena dalam perjalanan kali ini saya merasa terlalu letih, tanjakan semakin berat aku lalui akhirnya saya menuntun sepeda saya lagi dan sewaktu saya menuntun sepeda serasa ada yang memenggil saya untuk turun kembali, tetapi dengan semangat dalam hati saya tetap melanjutkan perjalanan hingga masjid Atta awun.



Hari mulai terang kami pun lanjutkan perjalanan, semangat masih menyatu dalam diri, sepeda pun kami gowes kembali tak terasa puncak pass saya lewati narsis sebentar sambil memanfaatkan cuaca yang cerah kami foto-foto,hehehe..setelah melewati puncak pass kami bagaikan ditemukan oleh syurga bagi olah raga sepeda yakni turunan atau jalanan menurun, hingga jalan masuk cibodas kami tak banyak mengayuhkan pedal sepeda, namun hanya beberapa menit saja kami menemukan syurga, usai itu jalanan menanjak hingga pintu gerbang cibodas, tiba dipintu masuk cibodas kami langsung menuju salah satu tempat persinggahan yaitu kedai Cantigi dan disitu sudah ada beberapa teman kami yang sudah tiba dari hari sebelumnya.

Perjalanan menggunakan sepeda kedaerah puncak atau cibodas tak membuat saya kapok walaupun kaki keram, badan pegel, mata ngantuk dan masih banyak rasa yang saya rasakan, namun saya malah ingin menggowes sepeda saya lebih jauh lagi. Karena bagi saya ini bukan sekedar hobi namun sudah menjadi kebutuhan pokok.  

Rabu, 02 Februari 2011

BULAN KEEMPAT



Empat bulan aku bergelut dengan perkara dan permasalahan orang lain yang aku dan teman-teman tangani, ada yang selesai dan ada juga yang sedang dalam proses, kadang aku merasa bahwa permasalahan yang ada pada diriku saja tak kunjung selesai apalagi menyelesaikan permasalahan orang lain, tapi tak apalah aku anggap ini sebagai pengalaman yang sangat berharga dan tak semua orang dapatkan dan tak semua teman-teman aparat baju coklat mendapatkan pengalaman seperti ini, dan aku pun merasa senang bisa mendengarkan hingga merasakan apa yang sedang orang lain rasakan, tapi kadang kala orang lain yang perkara atau permasalahannya sedang ditangani tidak mau mengerti kesulitan apa yang sedang dihadapi para penyidik, bahwa penegak hukum khusunya penyidik tidak menangani satu perkara saja tetapi banyak perkara yang sedang ditangani dan tak jarang dalam biaya operasional untuk menyelesaikan berkas perkara hingga dikirim sampai jaksa penuntut umum dan sampai pengadilan negeri para penyidik menggunakan kocek dari kantong sendiri.
                                  
Selama empat bulan pula tubuh ini tak merasakan nikmatnya olah raga, entah apa penyebabnya? Apa hanya diri ini saja yang memang pemalas, tapi yang aku rasakan aku merasa lelah dan letih selesai dari melaksanakan tugas, tapi baru tadi Selasa tanggal 01 Februari 2011 aku mencoba untuk olah raga, walau tak seperti dulu yang sehari bisa dua kali aku bersepeda dan berlari atau bisa seharian aku bersepeda bersama teman hingga kota Bogor, tapi ini sudah cukup lumayan bagiku setelah pulang kerja aku bersama Anto (Mahasiswa UI baru lulus yang mencoba sepeda barunya) hehehe..bersepeda mengelilingi Universitas Indonesia dan lari mengelilingi bunderan balairum, sungguh terasa nikmatnya keringat keluar dari tubuh yang sudah empat bulan aku tak pernah merasakan olah raga, karena selama empat bulan aku selalu menggunakan sepeda motor untuk menuju kantor, kemudian sampainya dikantor lalu masuk dan duduk diruang yang ber AC, ya begitulah aku setiap hari, belum lagi kalau permasalahan yang terjadi di masyarakat meningkat, terkadang malam dijadikan siang dan siang tetap menjadi siang, walau terkadang mata sudah sayup-sayup dan otak tak mampu konsentrasi secara penuh tetapi pekerjaan masih harus diselesiakan dan wajib selesai di hari itu. Tapi aku merasa senang karena aku merasakan hal yang berbeda yang aku anggap ini sebuah tantangan realita hidup yang harus dijalani.  

 

Jumat, 28 Januari 2011

Catatan Manusia yang Rindu Belaian Alam



 
Semakin hari wajah murung nan kusam semakin terlihat
Dari hari ke hari wajah ku terlihat lebih senja tak sebanding dengan perjalanan waktu yang di tempuh,
Hidup di kota hanya mementingkan materi semata, saling berebut kekuasaan, berlomba mengejar pangkat dan jabatan,
Padahal hidup di dunia bukan hanya itu, apakah manusia sudah menganggap materi sebagai Tuhan.

Aku merasakan rindu pada jiwa ini tentang apa yang aku pernah lakukan,
Sudah lama jiwa ini tidak bercumbu dengan alam
Sudah lama Raga ini tidak merasakan terpaan angin gunung yang menggetarkan tubuh,
Aku merindukan air yang jernih nan sejuk pabila dibasuhkan ke wajah ku yang kusam ini,
Dan Aku merindukan hangatnya persahabatan yang terasa sampai kejiwa.

Inginku berlari dan bermukim ke daerah pedalaman yang alamnya masih terjaga kelestariannya.
Namun aku juga manusia yang mempunyai keluarga
Dan apakah aku mampu hidup bagai petani yang mampu mengangkat dan menancapkan cangkulnya di saat matahari membakar kulit,
Dan apakah aku mampu hidup bagai nelayan yang mampu menarik layar disaat terrjangan ombak dan kerasnya karang.

Hidup dikota aku bagaikan dibelenggu sang waktu
Sebenarnya aku hanya ingin ada waktu luang untuk menikmati Indahnya Alam ciptaan tuhan.
Tapi apa daya kota hanya melambungkan anganku, yang semua hanya bohong besar.

Yaa.. TUHAN apakah aku ini manusia normal yang mempunyai harapan disetiap waktu
Dan apakah aku ini hamba yang kurang bersyukur akan nikmat yang kau berikan kepadaku.

Sabtu, 15 Januari 2011

Sebuah Harapan Dari sang Kerbau Gunung

Wahai Engkau yang Hijau dan Rimbun
Wahai Engkau yang memberikan kedamaian
Wahai Engkau yang Jenih dan Bersih
Wahai Engkau yang memberikan kesegaran


Tangan-tangan usil manusia membuatmu tak hijau lagi
Tangan-tangan Jahil manusia membuatmu tak rimbun lagi
Tangan-tangan kotor manusia membuatmu tak jernih lagi
Tangan-tangan manusia membuatmu tak bersih lagi


Saat kau tak lagi bisa memberikan kedamaian
Manusia sibuk dengan penanaman pohon kembali seratus, seribu, sejuta bahkan semilyar pohon
akankah engkau dapat kembali hijau dan rimbun?


Aku harap bukan hanya perbaikan pada hutan
aku harap bukan hanya penanaman pohon yang di gencarkan
aku harap perilaku manusialah yang harus dibenahi
aku harap ini bukan harapan yang sirna begitu saja.

Senin, 10 Januari 2011

Kritisisasi Diri dan Negeri Sendiri


Indonesia yang aku kenal adil dan makmur. Namun dari aku kecil sampai sekarang aku besar belum pernah aku melihat keadilan dari para elit pemerintah kepada rakyatnya, dan aku juga belum pernah melihat kemakmuran dari para rakyat jelata yang selalu menjadi korban pengkhianatan dan keserakahan.

Negara kita yang katanya negara hukum tetapi aku melihat dan aku mendengar terjadi kenjanggalan pada setiap proses perkara tertentu, dan timbul pertanyaan dalam hati, sebenarnya hukum ini milik siapa? Sebuah tanda tanya besar bagi kita semua, apakah hukum ini hanya berlaku bagi para rakyat miskin saja? Kapan hukum ini bisa berjalan dengan tegak dan tegas di bumi negara ini? Terdakwa yang mempunyai harta berlimpah dengan seenaknya dia bisa berjalan bebas pada saat berada di dalam rumah tahanan, bahkan dia bisa plesiran sampai keluar negeri. Aduhai mau dibawa penegakan hukum ini? Sampai kapan ini terjadi? Kita lihat saja terdakwa kasus korupsi yang mengambil uang negara dengan jumlah yang tidak sedikit, masuk bui tetapi pada saat didalam bui seperti menemui kebebasan baru, namun rakyat yang setiap hari memperjuangkan hidupnya agar hari ini dapat makan, dan makanan yang dimakannya pun mungkin hanya seadanya seperti makanan didalam penjara kelas teri. Ooooh inikah negaraku?

Wahai rakyat yang merasakan susahnya hidup di negara ini teruslah kita berusaha dan berdo’a agar perjuangan kita selalu di berkahi Allah SWT, dan teruslah mencari rezeki yang halal sesuai tuntunan Al Quran dan Al hadits agar di akhirat nanti kita tidak merasakan susah yang seperti kita rasakan di dunia ini.

 Wahai para koruptor hendaklah engkau bertobat dengan taubat nasuha agar engkau tak sengsara di akhirat nanti dan ingatlah kekayaanmu di dunia tak akan kau bawa mati, untuk apa kau kaya di dunia tetapi kekayaanmu hasil dari tangan kotormu.

Dan Wahai para pemimpin lihatlah rakyat yang menitikan air mata karena beratnya persoalan yang dihadapi,dengarlah jeritan rakyat yang menjerit karena ketidak adilan dan keserakahanmu, dan Rasakanlah dengan hati nurani mu apa yang mereka rasakan.

pandangan menurut sejarah kepercayaan Masyarakat

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuna Tantu Pagelaran yang berasal dari abad ke-15, pada dahulu kala Pulau Jawa mengambang di lautan luas, terombang-ambing dan senantiasa berguncang. Para Dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau Jawa.
Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman.
Dewa-Dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Kemudian mereka memindahkannya ke bagian timur pulau Jawa. Ketika gunung Meru dibawa ke timur, serpihan gunung Meru yang tercecer menciptakan jajaran pegunungan di pulau Jawa yang memanjang dari barat ke timur. Akan tetapi ketika puncak Meru dipindahkan ke timur, pulau Jawa masih tetap miring, sehingga para dewa memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut. Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Pada saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau jawa dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa.
Lingkungan geografis pulau Jawa dan Bali memang cocok dengan lambang-lambang agama Hindu. Dalam agama Hindu ada kepercayaan tentang Gunung Meru, Gunung Meru dianggap sebagai rumah tempat bersemayam dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung diantara bumi (manusia) dan Kayangan. Banyak masyarakat Jawa dan Bali sampai sekarang masih menganggap gunung sebagai tempat kediaman Dewata, Hyang, dan mahluk halus.

Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru dilakukan oleh orang Bali. Betapapun upacara tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru. Selain upacara sesaji itu orang Bali sering datang ke daerah Gua Widodaren untuk mendapat Tirta suci.

ranu Kumbolo

Ingin ku mengajak orang tercinta untuk menikmati dan bermalam di ranu kumbolo.